Kerikil tajam tak bikin Purnani Patah Arang

media 4 media 5 

Menjadi sukses tidaklah mudah. Seringkali pelaku usaha harus jatuh bangun lebih dahulu sebelum mencapai tujuannya. Hal inilah yang juga dialami Purnani. Hambatan tidak membuat wanita ini patah semangat. Ia justru berusaha mengambil hikmah dan tak pernah patah semangat dalam membesarkan usahanya, CV Bening Jati Anugrah. Setelah sukses melakukan budidaya ikan, wanita yang pernah menjadi pegawai negeri ini juga berusaha membina warga sekitar lokasi ia tinggal, yaitu di Ciseeng untuk ikut membudidayakan ikan. “Banyak petani yang ambil bibit dari saya, saya bina, hasilnya saya bantu juga pasarkan kalau mereka kesulitan memasarkan sendiri,” ujar Purnani. Sayang, usaha ini hanya bertahan selama empat tahun. Karena pada tahun 2000 banjir besar yang melanda kawasan Jabodetabek juga melanda kolamnya. Nah yang tidak bisa ia mengerti, para warga sekitar yang ia bantu malah juga menjarah ikan miliknya. Gilanya, ikan hasil jarahan itu dijual kembali kepada Purnani. “Semua dijarah di depan mata saya,” kenang Purnani yang kala itu memiliki lahan budidaya seluas 2.000 meter persegi. Kecewa, Purnani memutuskan untuk pindah dari lokasi tersebut dan berhenti dari usaha budidaya ikannya. Meski sempat frustasi, Purnani masih meyakini bahwa dunia perikanan adalah jalan hidupnya. Ia pun tak mau menyia-nyiakan jaringan petani ikan dan pedagang pasar yang sudah dikenalnya dengan baik. Dari situlah, ia memutuskan untuk menjadi penjual ikan milik para petani. Kemudian pada tahun 2003, Purnani mulai banting stir berjualan makanan olahan ikan seperti nugget, siomay dan otak-otak. Ketika itu, salah seorang rekannya yang bekerja di perusahaan ritel, Makro (kini bernama Lotte) untuk menjadi pemasok. “Dari situlah saya mulai bergelut di dunia ikan beku,” ujar Purnani. Cukup berpengalaman menjadi pemasok ikan olahan, Purnani pun akhirnya berpikir untuk mengembangkan usahanya menjadi produsen makanan beku dari olahan ikan pada tahun 2007. Apalagi ia sudah memiliki modal jaringan kuat untuk bahan bakunya. Rezeki pun mengalir deras dari lini ini. Tetapi cobaan tak berhenti menghampiri Purnani. Ia ditipu oleh rekan kerjanya, bahkan berkali-kali. Dengan dalih membutuhkan modal, mereka meminjam dana kepadanya. Bukannya mengembalikan, mereka malah kabur. “Rata-rata ditipu di atas Rp 100 juta. Yang paling telak, mencapai Rp 180 juta dan terjadi dua kali,” ujar ibu empat anak ini. Ada pula yang mengambil banyak barang dari tokonya dengan sistem kredit, namun karena tahu administrasi tokonya masih belum terlalu bagus, rekannya tak mau membayar hutang pembelian produk tersebut. “Nota hutangnya hilang, dia tahu kami tak ada bukti jadi dia tak mau bayar,” kenang Purnani. Kemudian ada warga binaannya yang mengaku-aku bisnis Purnani miliknya dan meminjam uang dengan jaminan Purnani. Kejadian ini membuat Purnani selektif dalam meminjamkan dana dan memperbaiki administrasi usaha serta laporan keuangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *